SELAMAT DATANG DI PERUSAHAAN KAMI CV. JGS

CV. JOGJA GEOLOGI SURVEY Adalah Sebuah Badan Usaha Yang Bergerak di Bidang Jasa Konsultan Geologi dan Pertambangan, Kami Melayani Survey Geologi Maupun Perizinan IUP Tambang CV. JOGJA GEOLOGI SURVEY Didirikan Dengan Akta Notaries Siti Asmaul Khusnah SH No. 07 tanggal 12 Februari Tahun 2012 Kontak Kami Hp : 085323353108 Email : jgsconsultan@gmail.com .

Find Out More Purchase Theme

Project CV. JGS

Perizinan WIUP

Perizinan WIUP, Perizinan IUP Eksplorasi, Perizinan IUP Oprasi Produksi, Pembuatan Dokumen Teknis .

Read More

Survey Geologi

Survey Eksplorasi Batubara,Survey Eksplorasi Nikel, Survey Eksplorasi Quarry Andesit, Pasir,Survey Geolistrik .

Read More

Desain Tambang

Blok Model Pit Desain Estimasi Cadangan Section Hole Conturing.

Read More

Pelatihan Program Geologi

Program Surpac Program Minecape Program Argis Program Mapinfo.

Read More

Project CV.JGS

CV. Jogja Geologi Survey

Anda Membutuhkan Jasa Konsultan Tambang dan Geologi, Untuk Perizinan Maupun Kajian Teknis Lainnya? Hubungi Kami CV. JGS 082295230211. Kami siap membantu anda

Tuesday, 30 October 2012

surpac 6.1.2 nikel

JASA KURSUS/SURVEY GEOLOGI

Thursday, 15 March 2012

GENESA NIKEL LATERITE


Genesa Umum Nikel Laterit
Genesa Umum Nikel Laterit

Berdasarkan cara terjadinya, endapan nikel dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu endapan sulfida nikel – tembaga berasal dari mineral pentlandit, yang terbentuk akibat injeksi magma dan konsentrasi residu (sisa) silikat nikel hasil pelapukan batuan beku ultramafik yang sering disebut endapan nikel laterit. Menurut Bateman (1981), endapan jenis konsentrasi sisa dapat terbentuk jika batuan induk yang mengandung bijih mengalami proses pelapukan, maka mineral yang mudah larut akan terusir oleh proses erosi, sedangkan mineral bijih biasanya stabil dan mempunyai berat jenis besar akan tertinggal dan terkumpul menjadi endapan konsentrasi sisa.

Air permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan terkayakan kembali oleh material – material organis di permukaan meresap ke bawah permukaan tanah sampai pada zona pelindihan, dimana fluktuasi air tanah berlangsung. Akibat fluktuasi ini air tanah yang kaya akan CO2 akan kontak dengan zona saprolit yang masih mengandung batuan asal dan melarutkan mineral – mineral yang tidak stabil seperti olivin / serpentin dan piroksen. Mg, Si dan Ni akan larut dan terbawa sesuai dengan aliran air tanah dan akan memberikan mineral – mineral baru pada proses pengendapan kembali (Hasanudin dkk, 1992).

Boldt (1967), menyatakan bahwa proses pelapukan dimulai pada batuan ultramafik (peridotit, dunit, serpentin), dimana pada batuan ini banyak mengandung mineral olivin, magnesium silikat dan besi silikat, yang pada umumnya banyak mengandung 0,30 % nikel. Batuan tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh pelapukan lateritik. Air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara luar dan tumbuh – tumbuhan, akan menghancurkan olivin. Terjadi penguraian olivin, magnesium, besi, nikel dan silika kedalam larutan, cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel – partikel silika yang submikroskopis. Didalam larutan besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan menghilangkan air dengan membentuk mineral – mineral seperti karat, yaitu hematit dan kobalt dalam jumlah kecil, jadi besi oksida mengendap dekat dengan permukaan tanah.

Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut dan silika pada profil laterit pada lingkungan yang bersifat asam dan lembab serta membentuk konsentrasi endapan hasil pengkayaan proses laterisasi pada unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co (Rose et al., 1979 dalam Nushantara 2002) . Proses pelapukan dan pencucian yang terjadi akan menyebabkan unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co terkayakan di zona limonit dan terikat sebagai mineral – mineral oxida / hidroksida, seperti limonit, hematit, dan Goetit (Hasanudin, 1992).



Besi dan Alumina Laterit



Besi dan alumina laterit tidak dapat di pisahkan dari proses pembentukan nikel laterit, salah satu produk laterit adalah besi dan almunium. Pada profil laterit terdapat zona-zona di antaranya zona limonit. Zona ini menjadi zona terakumulasinya unsur-unsur yang kurang mobile, seperti Fe dan Al.

Batuan dasar dari pembentukan nikel laterit adalah batuan peridotit dan dunit, yang komposisinya berupa mineral olivine dan piroksin. Faktor yang sangat mempengaruhi sangat banyak salah satunya adalah pelapukan kimia. Karena adanya pelapukan kimia maka mineral primer akan terurai dan larut. Faktor lain yang sangat mendukung adalah air tanah, air tanah akan melindi mineral-mineral sampai pada batas antara limonit dan saprolit, faktor lain dapat berupa PH, topografi dan lain-lain.

Endapan besi dan alumina banyak terkonsentrasi pada zona limonit. Pada zona ini di dominasi oleh Goethit (Fe2O3H2O), Hematite (Fe2O3) yang relatif tinggi, Gibbsite (Al2O3.3H2O), Clinoclore (5MgO.Al2O3.3SiO2.4H2O) dan mineral-mineral hydrous silicates lainnya(mineral lempung)

Bijih besi dapat terbentuk secara primer maupun sekunder. Proses pembentukan bijih besi primer berhubungan dengan proses magmatisme berupa gravity settling dari besi dalam batuan dunit, kemudian diikuti dengan proses metamorfisme/metasomatsma yang diakhiri oleh proses hidrotermal akibat terobosan batuan beku dioritik. Jenis cebakan bijih besi primer didominasi magnetit – hematite dan sebagian berasosiasi dengan kromit – garnet, yang terdapat pada batuan dunit terubah dan genes-sekis.

Besi yang terbentuk secara sekunder di sebut besi laterit berasosiasi dengan batuan peridotit yang telah mengalami pelapukan. Proses pelapukan berjalan secara intensif karena pengaruh faktor-faktor kemiringan lereng yang relative kecil, air tanah dan cuaca, sehingga menghasilkan tanah laterit yang kadang-kadang masih mengandung bongkahan bijih besi hematite/goetit berukuran kerikil – kerakal.

Besi Laterit merupakan jenis cebakan endapan residu yang dihasilkan oleh proses pelapukan yang terjadi pada batuan peridotit/piroksenit dengan melibatkan dekomposisi, pengendapan kembali dan pengumpulan secara kimiawi . Bijih besi tipe laterit umumnya terdapat didaerah puncak perbukitan yang relative landai atau mempunyai kemiringan lereng dibawah 10%, sehingga menjadi salah satu factor utama dimana proses pelapukan secara kimiawi akan berperan lebih besar daripada proses mekanik. Sementara struktur dan karakteristik tanah relative dipengaruhi oleh daya larut mineral dan kondisi aliran air tanah. Adapun profil lengkap tanah laterit tersebut dari bagian atas ke bawah adalah sebagai berikut : zone limonit, zone pelindian (leaching zone) dan zone saprolit yang terletak di atas batuan asalnya (ultrabasa).

Zona pelindian yang terdapat diantara zona limonit dan zona saprolit ini hanya terbentuk apabila aliran air tanah berjalan lambat pada saat mencapai kondisi saturasi yang sesuai untuk membentuk endapan bijih. Pengendapan dapat terjadi di suatu daerah beriklim tropis dengan musim kering yang lama. Ketebalan zona ini sangat beragam karena dikendalikan oleh fluktuasi air tanah akibat peralihan musim kemarau dan musim penghujan, rekahan-rekahan dalam zona saprolit dan permeabilitas dalam zona limonit.

Derajat serpentinisasi batuan asal peridotit tampaknya mempengaruhi pembentukan zona saprolit, ditunjukkan oleh pembentukan zona saprolit dengan inti batuan sisa yang keras sebagai bentukan dari peridotit/piroksenit yang sedikit terserpentinisasikan, sementara batuan dengan gejala serpentinit yang kuat dapat menghasilkan zona saprolit .

Fluktuasi air tanah yang kaya CO2 akan mengakibatkan kontak dengan saprolit batuan asal dan melarutkan mineral mineral yang tidak stabil seperti serpentin dan piroksin. Unsur Mg, Si, dan Ni dari batuan akan larut dan terbawa aliran air tanah dan akan membentuk mineral-mineral baru pada saat terjadi proses pengendapan kembali. Unsur-unsur yang tertinggal seperti Fe, Al, Mn, CO, dan Ni dalam zona limonit akan terikat sebagai mineral-mineral oksida/hidroksida diantaranya limonit, hematit, goetit, manganit dan lain-lain. Akibat pengurangan yang sangat besar dari Ni-unsur Mg dan Si tersebut, maka terjadi penyusutan zona saprolit yang masih banyak mengandung bongkah-bongkah batuan asal. Sehingga kadar hematit unsur residu di zona laterit bawah akan naik sampai 10 kali untuk membentuk pengayaan Fe2O3 hingga mencapai lebih dari 72% dengan spinel-krom relative naik hingga sekitar 5% .



Besi laterit

Mineral ini terbentuk dari pelapukan mineral utama berupa olivine dan piroksin. Mineral ini merupakan golongan mineral oksida hidroksida non silikat, mineral ini terbentuk dari unsur besi dan oksida atau FeO( ferrous oxides) kemudian mengalami proses oksidasi menjadi Fe2O3 lalu mengalami presipitasi atau proses hidroksil menjadi Fe2O3H2O ( geotithe). Mineral ini tingkat mobilitas unsurnya pada kondisi asam sangat rendah, oleh karena itu pada profil laterit banyak terkonsentrasi pada zona limonit.

Wednesday, 14 March 2012

TUTORIAL SURPAC


kumpulan artikel tambang
Sabtu, 2008 Desember 20
TUTORIAL SURPAC BAG 1
Pengukuran Vol. utk solid
à digunakan utk peghitungan volume hasil pemboran
Menu solid diaktifkan
Triangulate à between segment à apply
Triangulate à inside segment (utk menutup ruang kosong di bag. atas & bawah)
Validation à apply à lihat file *.not
Volumes à report volumes solids à apply à lihat file *.not (baca volume)

Mine Design
Data yang dibthkan :
- Besarnya slope
- Tinggi jenjang
- Lebar jenjang
- Dimensi ramp
1. Menu Mine Design diaktifkan
2. Pit Design à select slope method
- Design slope à slope disemua posisi besarnya sama
- Slope strings à slope disalah satu posisi berbeda
3. Tentukan besarnya slope yang diinginkan
4. Pit Design à New Ramp
Tentukan dimana ramp itu akan dibuat (lebarnya,dab) à apply
Isi table yang muncul à apply
5. Expand Segment à By bench Height à utk tinggi bench à tentukan sisi
bench yg akan diperluas à apply.
Expand Segment à By berm Width à utk lebar bench à tentukan sisi
terluar dari bench yg akan diperluas à apply.
Untuk merubah arah jalan :
1. Yang dirubah/didesain adalah berm-nya
2. Ramp properties sbelumnya dihilangkan dan harus dibuat properties utk new ramp

Perhitungan Volume (Net Volume) à utk perhitungan volume total
1. Buat original surface dlm btk *.DTM
2. Buat design tambang dlm btk *.DTM
3. Buat pit boundary/limit dari bentuk *str, dimana :
- Kurva harus tertutup
- Arah kurva clockwise
4. Klik volumes à Net volumes between DTM’s
5. Isi kolom dengan :
- Define first DTM à original surface
- Define second DTM’s à design tambang
- Isi location dengan à pit boundary
6. Isi nama file yang diinginkan
7. Apply 2x à muncul file dlm bentuk *.not
Perhitungan Volume à berdasarkan elevasi
1. Utk no.1 s/d 3 sama dengan diatas
4. Buka file pit boundary/limit à pilih koordinat yang akan diukur/section ( x & y )
5. Surface à DTM file function à create sections from DTM
6. Isi kolom yang ada :
- Define first DTM à original surface
- Define second DTM’s à design tambang
- Pit Boundary/limit
- Define the file to create (isi nama file yg diinginkan)
7. Buka file section yang baru saja dibuat pd no.6
8. Volumes à by elevation from sections
9. Isi kolom yg ada :
- Location à file section pd no. 6
- Range à dr ttk terendak, tertinggi, jarak per section

Membuat hasil pemboran
1. Buat file di Excell dgn sheet:
- Database pemboran
- Collar : Hole ID, X;Y;Z, Max Depth, remark 1, remark 2
- Survey : Hole ID’ Depth, Dip, Azimuth
- Geologi : Hole ID, sample ID, Depth from, Depth to, thickness, app.dip, rock type, coal seam, remark
- Sample: Hole ID, sample ID, Depth from, Depth to, thickness, app.dip,
rock type, coal seam, Data coal quality (TM, IM, CV, etc)
2. Masing-masing sheet disave dgn *.csv
3. Surpac à menu Database
4. Database à open/new
- Database type à acess à calculated
5. Tambahkan table dgn geologi & sample
6. Tambahkan kolom agar sama dgn masing-masing kolom pada file *.csv
!!! TABEL HARUS SAMA !!!
7. Isi type dengan :
- character à huruf
- real à angka
8. Database à import data à masukan masing-masing file *.csv
9. Lihat hasilnya pada à *.log
Jika no overlapping maka data sdh benar
10. Untuk menampilkan batang bor
Display à drillhole display styles à isi warna utk coal seam
11. Display drillhole à isi masing-masing table di ‘geologi’à klik kanan à get field codes
12. Extract à zone thickness & depth à isi kolom
13. Display à drillhole
14. Display à recallà display à string & points (drawing method à line/marker)
Untuk mengetahui besarnya dip :
1. Dari drillholes bentuk garis/string à surface à create DTM from layer à save
2. Contouring à contour DTM file à jd file *.str
3. Buka file *.str shg bisa dilihat bsrnya dip dari batubara

Membuat SR-Countour
1. Suraces à advances àmaths between DTM’s
2. Masukkan expresions
((a-b)/(b-c)) + 0,001)
dimana:
a – DTM topo
b – DTM roof coal
c – DTM floor coal

Menurunkan elevasi topografi
File tools à string maths
Isi file yang akan dirubah, file yang baru dan isi field dgn Z, serta expresion (rumus, mis : z – 3) yg artinya seluruh elevasi dikurangi 3 meter.

Membuat intersection (boundary) scr spt
Surface à clip or intersect à line intersections between DTM’s

Cara meng-expand pit pada bagian tertentu
1. Buka peta design pit lalu dipotong bagian yang akan di expand
2. Ganti no.string utk bagian yang akan di expand lalu save
3. Hilangkan/hapus string yang baru dan save design pit yang baru
4. Buka file *.str (no.2) yang baru dan mulai diexpand sesuai keinginan (string yang tdk perlu dpt dibuang)
5. Lalu save string yg sdh diedit/expand
6. Buat file *.DTM utk design yang sudah di expand (no.5)
7. Buat intersection dari peta topo dan file *.DTM dari no.6
Surface à DTM file function à line intersection between 2 DTM
8. Rapikan hasil intersection (boundary) à save
9. Buka file *.str yg sdh diexpand dan file hsl intersection serta rapikan (garis yg keluar dr boundary diedit)à save
10. Buka layer baru dgn isi dan digabung:
- Design pit yang baru (no.3)
- Design bench yang sdh diexpand (no.5)
- Boundary pit yang baru (no.8)
11. Samakan stringnya, lalu hubungkan design pit dgn design bench yg sdh di expand à save ke *.DTM
12. Buka file pit awal (*.DTM) dan file *.DTM (no.11)
13. Buat section
View à viewing planes à cutting planes (pair)
14. Design yg baru, string-nya dirubah
Cara membuat data Geologi s/d Mine Design
1. Setelah file drill hole terbentuk dalam *.str
2. Buat grs Bantu diatas dan dibawah sesuai dengan dip masing-msing hole (utk top dan bottom coal)
3. Buat file *.dtm dari no.2
4. Buat kontur struktur coal (ks)
à countouring à countour DTM file
5. Buat cropline
à surfaces à DTM file functions à line of intersections between 2 DTM’s
File : - Topo (DTM)
- Kontur Struktur (DTM)
6. Buat design tambang dgn elevasi floor (trial & error)
7. Buat boundary pit à intersect topo dgn design tambang
8. Hubungkan boundary pit sesuai nomer lalu di trim dengan design yang
ada.
9. Hitung volume OB dgn metode Net Volume
10. Buat floor coal dengan cara intersect design (DTM) dgn floor/roof (DTM)
11. Buat roof coal (cropsline) dengan cara intersect topo dgn model coal
12. Gabung antara no.10 dan 11 dan sambungkan sesuai nomer à boundary coal
13. Hitung volume coal (luas boundary coal dikalikan dgn tebal coal dari laporan pemboran) à perhitungkan kasar, lalu hitung pula SR-nya
14. Buat file di Excell utk perhitungan volume
15. Hitung volume OB per section tiap zona (buat penampang OB per zoneà *.str)
File :
- Topo (DTM)
- Design (DTM)
- Boundary Pit (str)
Tentukan : x, y1 dan y2
16. Buat penampang coal per zone per seam (cara sama dgn no.14)
File :
- Roof coal (DTM)
- Floor coal (DTM)
- Boundary coal (str)
Tentukan : x, y1 dan y2
Diposkan oleh afrimadona di 00:43
2 komentar:
echo mengatakan...
salam tambang...
mantap sekali infnya mudah@an bermanfaat
2009 Februari 14 18:09
muhammad mengatakan...
salam tambang...
halo fren gmn caranya ngerubah .csv jadi .str dalam surpac???
ak ga bisa nampilan contur karna datanya masih format .csv???
dah berkali2 di coba tetap aj ga bisa..
thanks ...
moga blog nya makin berkambang ne...
2009 Maret 22 02:11
Poskan Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link
Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Pengikut

Arsip Blog
• ▼ 2008 (2)
o ▼ Desember (2)
 TUTORIAL SURPAC BAG 1

MAPINFO TUTORIAL

BAB 1
PENDAHULUAN



1.1 Mengapa Menggunakan MapInfo?
Sistem Informasi Geografis atau Geographic Information System (GIS), merupakan suatu proses pekerjaan yang menggabungkan dan terdiri atas beberapa hal seperti peta, tabel, analisa, hasil keluaran, dan alat bantu komputer. GIS tidak selalu menggunakan komputer, namun karena lingkup pekerjaan yang sangat kompleks dan memerlukan ketelitian yang tinggi, saat ini komputer merupakan alat bantu satu-satunya yang sangat membantu efisiensi pekerjaan GIS.
Untuk mempermudah dalam membangun sistem serta melakukan proses analisa, manipulasi obyek, pemanggilan, penyimpanan, dan pengeluaran hasil kerja, maka banyak lembaga atau perseorangan yang membuat alat dan atau program aplikasi untuk mempermudah hal-hal tersebut di atas. Program aplikasi itulah yang sering disebut sebagai program aplikasi GIS.
Studi tentang Strategic Structural Plan for Kuta (SSPK) yang sekarang menjadi Strategi Manajemen Perkotaan Kuta (SMPK) setelah ditetapkan menjadi produk hukum melalui Keputusan Bupati Badung No. 1226 Tahun 2002 Tgl. 5 Nopember 2003 lokasi studinya di Kawasan Samigita (Semingak, Legian dan Kuta) dipilih menggunakan sofware MapInfo dan Autocad dalam proses penyusunan peta-peta eksisting maupun peta-peta perencanaan karena kemudahan dalam pemakaian dan merupakan salah satu program aplikasi yang banyak dipakai di instansi pemerintah. Kemudahan pemakaian sangat membantu dalam implementasi pemindahan ilmu (transfer of knowledge) kepada staf teknis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, serta kemudahan untuk mengupdate maupun dalam mengcopy file antara satu instansi dengan instansi lainnya sesuai dengan data yang dibutuhkan.
1.2 Kemampuan
Apabila dilihat dari kemampuannya sebagai program aplikasi GIS, MapInfo memberikan dan menyediakan berbagai macam kemampuan, diantaranya sebagai berikut :
 Program aplikasi GIS dapat berintegrasi dengan program aplikasi lain seperti pengolah kata (word) dan tabulasi (spreadsheet). Dengan kemampuannya, MapInfo dapat melakukan editing langsung dari program aplikasi lain, tanpa harus berulangkali berpindah dari satu program ke program lain.
 Menyediakan format file yang dapat memberikan atau menerima format file ke/dari program aplikasi GIS lain, bahkan untuk program aplikasi umum.
 Melakukan pemanggilan lebih dari satu file secara bersamaan, melakukan kontrol layer secara individual, serta kontrol dan perubahan proyeksi peta dan koordinat.
 Menyediakan perangkat perintah makro dengan alat bantu MapBasic Window, yang memungkinkan pengguna dapat melakukan perintah berulang-ulang dengan satu kali perintah.
 Serta banyak kemampuan-kemampuan lain yang dapat diketahui hanya apabila digunakan.
1.3 Dokumentasi File MapInfo
Sebagai tambahan untuk User’s Guide yang ada, secara otomatis dimasukkan dalam proses instalasi tentang online Reference, Online Help, StatusBar, dan Tutorial.
1.3.1 MapInfo Reference
MapInfo Online Reference adalah panduan lengkap untuk semua menu perintah, tools, dan fungsi dari setiap perintah yang ada pada MapInfo. Dalam Reference tersebut, menu perintah diurutkan berdasar huruf abjad, serta diberikan intruksi lengkap langkah demi langkah untuk setiap perintah dan variasinya.
Reference didokumentasikan dalam format Adobe Acrobat Reader, sehingga hanya dapat dibaca dengan program dan format yang sama. Untuk dapat meng-akses Reference, lakukan langkah sebagai berikut :
1) Lakukan instalasi program aplikasi Adobe Acrobat Reader yang terdapat pada CD Installer MapInfo.
2) Pindahkan file-file sebagai berikut di bawah dari CD Installer MapInfo, kedalam directory C:\Program Files\MapInfo.
 mi_ref.pdf, yang merupakan Reference Guide dari MapInfo Professional 5.0, membutuhkan 3 MB tempat di Harddisk.
 crw_ref.pdf, yang merupakan User Guide untuk Crystal Reports, membutuhkan 13 MB tempat di Harddisk.
3) Dari Windows Explorer, klik 2 (dua) kali file yang ingin dibaca. Secara otomatis file tersebut akan terbuka menggunakan program aplikasi Adobe Acrobat Reader.
1.3.2 MapInfo Tutorial
MapInfo Tutorial merupakan komponen aplikasi dari MapInfo yang memberikan tuntunan dan contoh langsung secara visual pada layar komputer, tentang langkah-langkah penggunaan MapInfo. Untuk dapat meng-akses aplikasi ini, dapat dilakukan secara langsung dari CD Installer MapInfo 5.0 dengan melakukan perintah sebagai berikut. Pilih What’s New > Run MapInfo Tutorial.
1.3.3 MapInfo StatusBar
MapInfo StatusBar berada pada bagian paling bawah dari layar MapInfo. Selama bekerja dengan MapInfo, StatusBar tersebut akan memberikan informasi yang sangat diperlukan seperti yang akan dijelaskan berikut di bawah. Untuk menampilkan dan menutup StatusBar, lakukan perintah: Option >Show / Hide StatusBar.
 StatusBar Help. Menampilkan informasi mengenai penjelasan setiap menu perintah yang ada di menu bar. Setiap kali cursor digerakkan dan berada di atas sebuah menu perintah, pada statusbar akan tertulis informasi fungsi dari perintah yang bersangkutan.
 Zoom Layer. Menampilkan penampilan window (zoom) dalam ukuran lebar window. Informasi lain dari status ini adalah skala peta dan lokasi cursor. Pemindahan jenis informasi dilakukan dengan menekan tombol panah disamping setiap informasi pada StatusBar.
 Editable Layer. Menampilkan file atau layer peta yang berada dalam kondisi editing. Sekaligus pada StatusBar tersebut, dapat dilakukan pemindahan layer peta yang dikehendaki untuk di edit.
 Browser Window Records. Menampilkan jumlah record dari tabel browser yang ditampilkan.
 Snap-to-Node. Menampilkan informasi penggunaan snap, yang ditampilkan dengan huruf S.
1.3.4 File Kerja MapInfo
File kerja adalah file-file yang terbentuk dan disimpan pada saat bekerja dengan program aplikasi MapInfo 5.0. Pada dasarnya, setiap file atau tabel dalam MapInfo 5.0 terdiri atas file-file berikut ini.



JENDELA (WINDOW) MAPINFO


















FILE ATAU TABLE DALAM MAPINFO
Akhiran File Keterangan
File Vektor Image :
Mapnfo File.DAT File yang berisi data atribut, dalam format bahasa program MapInfo 5.0.
Mapnfo File.ID File yang berisi header untuk kode data atribut.
Mapnfo File.IND File yang berisi header untuk kode data indeks.
Mapnfo File.MAP File data obyek grafis dalam bentuk bahasa mesin.
Mapnfo File.TAB File yang berisi header untuk data atribut
Mapnfo File.WOR Batch file yang berisi kumpulan setting peta tematik atau untuk keperluan cetak.


Akhiran File Keterangan
File Raster Image :
Filename.BMP Windows Bitmap
Filename.JPG JPEG – Joint Photographic Experts Group
Filename.TIF TIFF – Tagged Image File Format
Filename.GIF Graphics Interchange Format
Filename.TGA Truevision TGA (Targa)
Filename.PCX Zsoft Paintbrush
Filename.BIL SPOT – Satellite Pour I’Observation de la Terre
File Import/Export :
Mapnfo File.MIF File ASCII yang merupakan header data file yang bersangkutan
Mapnfo File.MID File ASCII yang merupakan isi data obyek grfais dan data atribut

File-file tersebut dalam tabel di atas perlu diketahui terutama untuk keperluan pengaturan file dalam harddisk, atau pemindahan file dengan menggunakan Windows Explorer. Jangan sekali-kali mengubah file dengan menghapus atau menambah isi file, karena akan mengakibatkan file tidak bisa dibuka kembali dengan program aplikasi MapInfo.
File Raster Image merupakan file yang berasal dari luar MapInfo, seperti dari hasil scanning ataupun CCT (Computer Compatible Tape) yang biasanya merupakan data yang diperoleh dari satelit.


1.3.5 Bagan Menu Perintah MapInfo
Untuk memudahkan pengguna dalam menjalankan program MapInfo, di bawah ini akan diberikan diagram pohon menu perintah yang seringkali digunakan, terutama dalam rangka membantu pelaksanaan Studi Strategic Structural Plan for Kuta (SSPK).
Diagram pohon tersebut akan mempermudah mencari dan menelusuri letak perintah yang diinginkan didalam kelompok menu perintah MapInfo.



































1.3.6 Diagram Alir Penggunaan MapInfo
Tidak semua menu perintah yang ada dalam MapInfo ini akan digunakan, terutama untuk keperluan studi tentang angkutan umum. Diagram alir sederhana di bawah ini akan memberikan gambaran tentang langkah-langkah tersebut. Dari diagram langkah itu, kemudian dikonversi menjadi diagram perintah yang terdapat pada menu aplikasi MapInfo.
Dari kedua diagram tersebut, tidak akan menjelaskan secara detail, tetapi hanya memberikan gambaran tentang menu utama yang sering digunakan.

Thursday, 20 October 2011

STUDY AWAL NIKEL

PETUNJUK PRAKTIS EKSPLORASI Ni/Co LATERITE


I.PENDAHULUAN

“Laterite” (Latin; brick rock), pertama kali istilah ini digunakan pada tahun 1807 oleh Major Francis Hamilton Buchanan untuk tanah yang berwarna merah ( pelapukan dari basalt) yang memotong batuan di India bagian selatan. Materialnya relative lunak, menggumpal lunak dikarenakan pengaruh musim.

Sekarang istilah ini dipakai untuk menggambarkan range profil pelapukan : termasuk ore Alumina (bauxite) dan juga sebagai indikasi adanya sumber Ni, Co, Cr dan logam-logam mulia lainnya.

I.1 Geologi

Inti bumi diperkirakan terdiri atas besi dengan kandungan nikel sekitar 7%.Zone diantara kerak bumi dan inti bumi, yaitu yang disebut mantel(mantle) diperkirakan tebalnya 2.898 km dan mengandung 0,1%-0,9% nikel. Deposit Ni pada umumnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu Nickel copper sulfide,Nickel Silicate dan Nickel Laterites-Serpentines.

I.2 Ni/Co Laterite

• Dipermukaan, secara umum profil-profil zona pelapukan ( oksidasi ) terbentuk secara exlusive dari batuan dasar Ultrabasa, dimana selalu :
- Dunite dan peridotites
- Turunan batuan-batuan terserpentinkan

I.3 Penyebaran

• Dominan di area – area tropik dan sub tropic tetapi tidaklah secara signifikan
• Terjadi dari batas Equator sampai 53º N Latitude, (Ireland bagian utara) dan 41º S (Tasmania), Little ice-free Land selatan Tasmania dan continent glasiasi hemisphere bagian utara yang berumur Pleistocene.

I.4 Genesa Endapan Nickel Laterite

Batuan Ultrabasa rata-rata mengandung Nikel sebesar 0,2%. Unsur Ni tersebut terdapat pada kisi-kisi kristal Olivin dan Piroksen.

Adapun proses awal yang dialami oleh batuan induk ini adalah “Proses Serpentenisasi” dimana akibat dari pengaruh larutan Hydrothermal yang terjadi pada masa akhir pembekuan magma telah mengubah batuan beku ultrabasa tersebut ( Peridotit) menjadi batuan-batuan yang Serpentinit atau “ Peridotit Serpentinized” – batuan peridotit terserpentinkan sebagian.
Hal ini memperlihatkan beberapa reaksi kimia pada proses serpentinasi sebagai berikut :

1. Larutan yang mengandung CO2 mengubah miniral Olivin menjadi Serpentin dan
Magnesit: 2Mg2Si4 + CO2 + 2H2O H4Mg3Si2O9 + MgCO3

2. Proses Hidrasi yang megubah Olivin dan Piroksen menjadi mineral Serpentin :
Mg2SiO4 + MgSiO3 + 2H2O H4Mg3Si2O9

Unsur Ni tidak terdapat pada proses ini karena hanya sebagai “impurities” yang tidak mengalami reaksi. Unsur Ni tersebut hanya mengalami pemisahan dan pengumpulan akibat proses Hydrothermal. Proses ini berlangsung dalam waktu relative lama

Sedang proses selanjutnya adalah proses Laterisasi, ini condong kepada pelapukan yang bercirikan adanya akumulasi dari Oksida besi dan Alumina, sedangkan silica dan komponen lain mengalami “Leaching”. Proses kimia dan fisika dari udara,air dan pergantian panas dingin yang bekerja continue, menyebabkan dekomposisi dan desintegrasi pada batuan menjadi tanah Laterite. Stabilitas mineral pembentuk batuan terhadap pelapukan merupakan merupakan kebalikan dari seri reaksi BOWEN, mineral Olivin dan Piroksen sebagai mineral utama pembentuk batuan Peridotit sangat tidak stabil terhadap proses pelapukan.

Pada pelaukan kimia khususnya, air merupakan pelarut supergen yang baik, disebabkan karena strukutr molekul “Dipol”. Air tanah kaya akan CO2 berasal dari udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan yang menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (Piroksen,Olivin) pada batuan Ultrabasa, menghasilkan Fe,Mg,Nikel yang larut, silica cenderung membentuk suspensi kollloid dan lain-lain. Di dalam larutan Fe teroksidasi dan mengendap sebagai Ferri-Hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti Geotuit,Limonit dan Hematit di dekat permukaaan. Nikel tidak semuanya larut tetapi ada juga yang tertinggal sebagai Residu..

Larutan yang mengandung Mg,Ni dan Si meresap ke bawah selama larutannya bersifat asam, sehingga pada suatu kondisi dimana suasananya cukup netral akibat adanya reaksi air tanah dengan batuan, maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan Hydrasilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai Silikat atau Hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut akan mengendap pada celah-celah atau pada rekahan-rekahan sebagaimana dikenal dengan urat-urat Garnerit dan Crysopras.

Sedangkan larutan residunya akan membentuk senyawa menjadi Saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. Berdasarkan kekerasan relatifnya,maka saprolite tersebut pada umumnya dibedakan atas “Soft brown Ore” untuk yang lunak dan “Hard brown ore” untuk yang keras – Term ini biasanya bervariasi tergantung perusahaan yang menggunakannya. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai karbonat-karbonat akan terbawa ke bawah sampai batas pelapukan dan diendapkan sebagai Dolomit,Magnesit dan Kalsit yang biasanya mengisi celah-celah atau rekahan-rekahan pada batuan asal. Dilapangan unsure ini dikenal dengan batas petunjuk antara zone pelapukan dan zone batuan segar yang sering disebut dengan akar pelapukan (weathering root)

SKEMA GAMBAR PEMBENTUKAN LATERIT

AIR HUJAN YANG KAYA CO2

Sedikit perlindian pada zona Loimonit selama musim hujan

Kosentrasi residu Fe dan Chromit Ni Penguapan,pengendapan
Terikat pada Geornit Al_oxida,mineral Si,AL selama musim kering.
Lempung Mn-hydroxida(+Co) Cr,Spinel



Pengurangan larutan yang mengandung Penambahan larutan yang
Ni,Mg,Si mengandung Ni,Mg,Si



ZONE PELINDIAN

Silikat yang mengandung Ni terombak
Mg,Sid an Ni larut




Pengendapan kembali Ni,Mg,Si
Pada celah-celah,misal :
Sebagai : - Garnerit
- Crysopras



Sebagaian Mg mengendap kembali sebagai

kosentrat celah pada batuan asal sebagai :
• Magnesit
• Serpentinit ( sebagian kecil )



I.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan Nikel adalah :

1. Batuan Asal

Dalam hal ini yang bertindak sebagai batuan asal adalah batuan Ultrabasa, karena :

• Mempunyai elemen Ni yang paling banyak diantara batuan-batuan yang lainnya.
• Mineral-mineralnya mudah lapuk ( tidak stabil )
• Komponen-komponennya mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk Nikel.

2. Iklim

Adanya pergantian musim kemarau dan penghujan dimana terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsure-unsur. Perbedaan temperature yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis,dimana akan timbul rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia terutama dekomposisi batuan.

3. Reagan-reagan Kimia dan Vegetasi

Yang dimaksud dengan Reagan-reagan kimia adalah unsure-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. CO2 yang terlarut bersama-sama air memegang peranan penting dalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus dapat menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan, asam-asam humus ini erat hubungannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini vegatasi akan mengakibatkan :
• Penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur-jalur akar-akar pohon.
• Akumulasi dari air akan lebih banyak.
• Humus akan lebih tebal.
Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan bijih Nikel lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.

4. Struktur

Struktur menyebabkan terjadinya deformasi dari batuan. Seperti diketahui bahwa batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan pada batuan akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif.

5. Topografi.

Keadaan topografi setempat sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta Reagan-reagan lain. Akumulasi endapan Nikel umumnya berada pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang,hal ini akan menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang curam,secara teoritisjumlah air yang meluncur “run off” lebih banyak dari pada air yang meresap, ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
Pada tempat-tempat di mana terdapat keseimbangan, Nikel akan mengendap melalui proses pelapukan kimia.

6. Waktu.

Waktu yang cukup lama akan menghasilkan pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur Nikel cukup itnggi.

7. Penyebaran Endapannya.

Pada dasarnya penyebaran endapan Nikel ini dapat mengikuti prinsip-prinsip genesanya,sehingga pengetahuan genesanya dapat membantu memperkecil area penyelidikan, penentuan pola sumur uji dan cara pengambilan contoh yang sangat prinsipil dalam pekerjaan eksplorasi.
Secara umum endapan laterit Nikel ini terdapat pada punggungan dan lereng bukit-bukit dengan kemiringan yang landai sampai sedang. Kemiringan (slope) bukit ini berkisar antara 10º- 30º tapi pada umumnya endapan terkaya tedapat pada punggungan bukit dengan kemiringan tidak terlalu landai dan juga tidak terlalu curam (±15º).

Endapan Nikel laterit sangat tidak teratur baik bentuk penyebaran horizontal atau vertical maupun sifat-sifat fisis dan komposisi kimianya. Tetapi dapat disimpulkan bahwa endapan Nikel tetap mempunyai profil yang umum seperti lazimnya endapan laterit Nikel

PROFIL ENDAPAN NIKEL
Deposit yang terbentuk di tempat
Zone utama dari pengayaan



Zona akibat erosi oleh arus




+ + + + + + + +
Peridotit dengan zona Serpentinit + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +
Yang impermeable + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +
+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +
+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +

Daerah pengendapan hsl perpindahan yang me Pengayaan yang dangkal Pengayaan yg dalam
Ngandung Nikel (kurang rekahan ) (banyak rekahan)


I.6 Karakteristik Umum Zona Laterit

Zona Tanah Penutup, ( Wedabay Nickel, Limonite )

Warna : Coklat-coklat tua, Kehitaman
Kekerasan : Lunak – sedang
Ø : Halus – sedang

Diskripsi umum
• Pada bagian atas gembur dan mengandung humus/lapisan organic
• Sering dijumpai fragmen-fragmen lepas seperti : pysolite Fe, konkresi Fe,fragmen silica dan fragmen batuan asal
• Tidak terlihat indikasi adanya mineral
• Gradasi ke arah zona Limonit ditunjukkan dengan hilangnya material di atas, perubahan warna lebih cerah,coklat kekuningan – coklat merah.Munculnya mineralisassi tertentu (lemah) seperti MnOx,FeOx dan AlOx

Zona Limonit, (WBN, F-SAP)

Warna : Coklat kemerahan,Coklat kekuningan,Merah
Kekerasan : Lunak – sedang
Ø : Halus – sedang

Diskripsi umum
• Terlihat adanya mineralisasi yang kuat
• Cenderung homogen
• Tingkat elasitas lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain
• Sering dijumpai fragmen batuan asal seperti silica
• Kehadiran laterit dengan campuran tersebut diatas dapat merupakan perselingan dengan laterit yang cenderung homogen.
• Mineral utama (mayor mineral) pada zone ini, Geotit (FeOH) dan mineral lempung (clay) seperti Kaolin.
• Minor mineral zona ini, adalh mineral-mineral oksida seperti MnOx,AlOx, Magnetit dan Cromite.
• Silika (Quartz) lebih sering dijumpai daripada minor mineral di atas.
• Gradasi kearah zona Saprolite dapat dilihat dari perubahan warna menjadi coklat kekuningan,coklat kehijauan atau hijau.

Zona Saprolit, (WBN,SAP/R-SAP)

Warna : Coklat kekuningan,Coklat kehijauan,Kuning kehijauan
Kekerasan : Sedang – keras
Ø : Sedang – kasar

Diskripsi umum
• Cenderung hiterogen
• Sering dijumpai fragmen batuan asal,Silika.
• Perselingan antara Laterit dengna batuan asal (biasanya berukuran boulder) sering dijumpai di zona ini
• Semakin ke arah bawah terlihat adanya gradasi ukuran butir menjadi lebih kasar
• Ke arah bawah kondisi fracturing semakin intensif yang biasanya terisi oleh mineral-mineral Silika seperti Garnierit dan Crysopras.
• Mineral tambahan (minor mineral) pada zona ini adalah lempung (clay) dan mineral oksida seperti Geotit,MnOx,Magnetit,Cromite dan Chrysotile Asbestos.
• Magnesit (MgCO3) kadang dijumpai dalam jumlah sedikit (accessory minerals).
• Gradasi kea rah zona Bedrock diindikasikan dengan kemunculan fragmen-fragmen batuan asal berukuran couble-boulder dengan pelapukan yang semakin berkurang kea rah Bedrock.

Zona Bedrock,(WBN-BRK)

Warna : Hitam keabuan,Hitam kehujauan,Hijau tergantung komposisi batuan asal
Kekerasan : Keras
Ø : Kasar

Diskripsi umum
• Komposisi terdiri atas Dunit,Peridotit atau batuan Ultrabasa lainnya
• Pada bagian atas sering dijumpai zona fracturing yang terisi oleh mineral Silikat seperti Garnierit,Serpentin, Crysopras atau mineral silikat lainnya.
• Kondisi Bedrock yang fresh dan massif dijumpai pada bagian bawah dengan zona fracturing tersebut di atas.
• Mineral utama Olivin dan Piroksen.
• Minor mineral, Hornblende dan Biotite
• Accessory minerals, Cromite dan mineral Sulfida.

Lapisan Penutup Saprolite Limonite


Foto.1.Lokasi Mangga Dua,PT.KPT,Hal-Tim,2006
I.7. Skala Pelapukan

Lithology Classification Characteristics
Fresh Rock 0 - 2 Hitam/hijau/ligh gray,segar,dense & keras
Saprolite 1 Hitam/coklat,slightly weathered,discoloured,masih keras
2 Cokalt/abu-abu
3 Merah muda (pink)/coklat/hijau
4 Pink/coklat/green,friable,density relative rendah dengan beberapa tektur sisa
Transition (TM) 5 Coklat,kuning/merah,pink/abu-abu kehijauan/sangat lunak,original textures masih nampak
Limonite 5F Kuning-merah,sangat lunak”soil-like”,density samgat rendah-kompak,tekstur lumpur “mud-like texture
Ferricrete 6 Merah-hitam,keras,termasuk pisolites

DISKRIPSI UMUM MINERAL

1. Garnierit (Ni,Mg)6SiO10(OH)4 2. Serpentin (Mg,Fe)3Si2O5(OH)4
Gol.Silika (Serpentin Group) Gol.Silika
Sistem kristal : Monoklin Warna : Hijau tua
Warna : Hijau
Kekerasan : 2 - 4
Gores : Hijau.

3. Kwarsa 4. Magnesite (MgCO3)
Gol.Silika Gol.Nitrat,Karbonat,Borat
Warna : Bening Warna : Putih kekuningan
Kilap : Kaca
Gores : Putih


Foto.2. Mineral Garnierit (Ni,Mg)6SiO10(OH)4, PT.KPT,Hal-Tim 2006

Foto.3.Physolite Fe/Iron Stone,zona penutup.PT.GDM,Waegeo,2006

DISKRIPSI UMUM BATUAN

1. Peridotit 2. Dunite
Warna : Hitam kehijauan Warna : Hijau kehitaman
Tekstur : Granular faneric Tekstur : Granular faneric
Struktur : Masif Struktur : Masif
Kom. Mineral : - Olivin Min.Utama Kom.Mineral : - Olivin Min.utama
- Piroksen - Cromit
- Cromite Min.tambahan - Magnetit Min.tambh.

II. EKSPLORASI PADA ENDAPAN BIJIH NIKEL SEKUNDER (LATERIT)

Tahapan :

II.1 Penyelidikan Pendahuluan

1. Studi literature dan Orientasi Lapangan

Dalam melakukan penyelidikan yang umum para ahli geologi lakukan adalah mengkombinasikan data Helicopter Aerial Reconnaissance dengan data interpretasi satellite image namun bisa juga melakukan penelitian di atas meja yaitu dengan mempelajari berbagai sumber data yang berkaitan dengan daerah penelitian ( buku literatur, Peta Topografi ,Peta Geologi Regional ,Peta Tata Guna Lahan dan sebagainya ) serta mempelajari berdasarkan indikasi data geologi yang memungkinkan pembentukan formasi bijih, contoh : tanah merah merupakan indikasi yang baik untuk mengetahui adanya batuan Ultrabasa,walaupun tidak selamanya benar.

Orientasi lapangan yang cepat dan akurat biasanya dengan menggunakan helicopter,namun sering kali langkah ini ditinggalkan karena alasan tertentu.

2.Pemetaan Regional

Setelah kita mengetahui berdasarkan data di atas maka kita melokalisir daerah yang dianggap potensial dengan pemetaan skala 1 : 10.000.

Cara melokalisir yang paling mudah adalah dengan menelusuri punggungan-punggungan bukit, dimana kita juga dapat mengambil conto laterit regional pada spasi 400m x 400m dengan menggunakan Hand Auger ataupun pembuatan test-pit. Untuk mengetahui lokasi dimana Hand auger /conto tanah diambil kita menggunakan GPS.

Jika indikasi endapan bijih nikel dari analisa laboratorium sesuai dengan harapan, maka spasi 400m x 400m bisa di infill dengan spasi 200m x 200m dengan cara pembuatan grid line (surveyor), dimana merupakan cara geometri dan jejak orthogonal lapangan, biasanya jarak terukur spasi 50/100 m. Infill drill ini haruslah sudah menggunakan alat bor, agar data yang diambil akurat.

Dibawah ini akan diperlihatkan bekas Test pit. ( PT. Nickel Pasific, Waegeo) dan test pit dari PT.BMS.


Foto.4.Test Pit,PT.Pasific Nickel,Waegeo,1978


Foto.5.TestPit,PT.BMS,Waegeo,2006
II.2 Eksplorasi Detail Tahap I

Langkah selanjutnya adalah penentuan titik Bench Mark dengan GPS Geodetick, yang mana nantinya sebagai acuan dalam pembuatan peta topografi local dan gridding line untuk infill drill spasi 100 m x 100m, 50m x 50m dan 25m x 25 m.

Pada saat pembuatan gridlines, starting pointnya haruslah dari titik yang significan, seperti halnya helipad atau dari titik drill yang akan direncanakan. Titik-titik drill haruslah ditandai dengan pita dan almunium tag. Geolog melakukan pemetaan dan surveyor mengerjakan pengukuran dan gridding line.

Selama grid cutting, characteristic laterite di petakan dalam skala 1 : 5000. Hasil Pemetaan Detail ini sebagai Base Map dan merecord kenampakan data dilapangan seperti halnya :

Pola aliran : - Arah, ukuran, kualitas air dan kejernihan ( untuk planning selanjutnya dalam penentuan fly camp dan program drilling ) dan seberapa jauh sungai tersebut memotong batuan dasar plus jenis Bedrock-nya. Peralatan yang dipakai adalah GPS dan kompas.

Batuan – Laterite : - Bagaimana genesanya dengan melihat kandungan material batuan. Dipermukaan material batuan selalu hadir baik dalam bentuk float,boulder dan mungkin sebagai outcrop. Tipe float atau material yang hadir dicompare dengan laterit material dihitung dalam bentuk persen haruslah dicatat,informasi ini penting untuk kalkulasi resource sementara.

Morpfology,ridge/spur,jendela-jendela erosi,perpotongan jalan dan jalan setapak : -
Kenampakan endapan laterite sering tersingkap pada lereng-lereng bukit yang tererosi tajam. Hal ini biasanya berasosiasi dengan pola sungai.

Foto.6. : Morfologi datar – sedang yang sangat ideal untuk endapan bijih Ni,
Waegeo,PT.GDM,2006
II.3 Eksplorasi Detail Tahap II

Dari hasil pemetaan grid lines spasi 200m x 200m dan analisa bor, jika indikasi calculate deposit bagus maka hal ini dilanjutkan dengan infill-infill bor spasi 100m x 100m. Spacing infill drill ini dengan menggunakan Winkie rigs (WBN) atau Jackro 200 (PT.Kemaknuran Pertiwi Tambang).

Sebelum cadangan kasar dihitung secara accurate, deposit laterite dipetakan secara detail dan disurvey secara professional dan informasi ini terekam dalam skala 1 : 1000

II.4. Eksplorasi Detail Tahap III

Area-area spesifik yang termasuk di daerah deposit haruslah dipilih untuk penambahan infill drilling. Area tersebut diasumsikan sebagai target permulaan mining (Mining Block Test). Infill drilling selanjutnya dipropose untuk metallurgy,density, analisis geostatistikal dan atau measured resource drilling. Ditahapan inipun gridding ,pemetaan dan survey terus berlanjut guna mengupdate peta sebelumnya

Kesemua tahapan diatas terekam didalam computer.

II.5. Studi Infrastuktur dan tahapan lainnya akan diterangkan di lain episode.

III. LAPANGAN

Sebelum berangkat ke lapangan hendaknya para geologist / field geologist disarankan :

1. Studi khusus batuan yang ada ofiolitnya
2. Studi petrologi batuan Ultramafic
3. Studi jenis batuan
4. Studi xenolit dan batuan induknya
5. Studi percontohan batuan secara orientasi
6. Latihan ketepatan titik lokasi dengan GPS
7. Biasakan foto lokasi
8. Mempelajari dike dilapangan
9. Diskripsi singkapan :

- Lokasi (koordinat,kampung,sungai)
- Ragam batuan (batuan utama,jenis batuan sekitarnya)
- Mineral (pembentuk batuan utama,pengiring,mineral lainnya, mineral ubahan).
- Struktur (sesar,deformasi, selaras,erosi)
- Kondisi batuan (segar,lapuk,ketinggian,keadaan sekarang)
- Xenolit (bentuk,ukuran,warna,jenis,penyebaran,kelimpahan)
- Urat (jenis,mineral,memotong,penyebaran,kelimpahan,ukuran,mengubah batuan sekitarnya,peran urat)
- Dike,kalau ada (jenis,ukuran,bentuk,penyebaran,kelimpahan,warna,mineral,memotong,mengubah batuan sekitarnya,peran dike)
- Perhatikan vegetasi atau daerah tidak subur yang biasanya tempat penyebaran batuan ofiolit atau laterite.
- Perhatikan tanah lapukan/laterit.

Kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah orientasi lapangan (dengan heli) guna menentukan daerah-daerah mana yang nantinya dianggap prioritas utama aktifitas eksplorasi. Perlengkapan yang digunakan :
• Peta Geologi Regional
• Peta Topografi
• GPS
• Kompas Sunto + Clino
• Palu geologi
• Buku lapangan yang tahan air
• Meter line (min 50 m)
• Pensil mekanik,2B
• Scracther + magnetik
• Pita
• Spidol permanen
Langkah selanjutnya mengikuti tahapan-tahapan eksplorasi seperti yang telah dijelaskan diatas.


Foto.7.Orientasi Lapangan dengan mempergunakan kole-kole,PT.GDM,Waegeo,2006
IV. STANDARD OPERASSIONAL PROSEDUR (S.O.P)
PETUNJUK PELAKSANAAN STANDART
DISKRIPSI INTI BATUAN

IV.1. Peralatan :

Peralatan yang perlu disiapkan sebelum melakukan diskripsi / pemerian inti bor antara lain :
a. Buku lapangan tahan air
b. Pinsil,bolpoint dan spidol
c. Aluminium tag
d. Plastik label conto
e. Kantong conto
f. Loupe
g. Magnet pen/Scratcher pen
h. Plastik core box
i. Kertas karton manila

IV.2. Mapping

Secara umum prinsip pemetaan di lapangan :
• Selalu dilakukan oleh Geologists/Asisten Geologist
• Mengidentifikasi data-data permukaan,batuan dasar,laterit dan struktur geologi.
• Mendata informasi topografi,seperti ; elevasi,slope,pola aliran dll.
• Semua data tersebut disimpan secara digital-komputer.

1. Base Map
Skala base map yang dipakai 1 : 5000. Berikut ini detail data yang musti digabung :
• Geologi
• Topograpy
• Batas-batas daerah;Cagar Alam,Hutan Lindung,Taman Konservasi Laut.
• Lingkungan yang sensitive atau terlarang
• Wilayah Hak Ulayat
• Areal “Mine Out”
• Infrastruktur
• Tumbuh-tumbuhan
• Struktur
• Perencanaan (misal ; titik lubang bor)

2. Mapping Geologi

Detail mapping dilakukan oleh geologist dengan jalan melalui pemetaan setiap grid line dan peta selalu diupdate secara teratur selama program drill. Semua data musti dipetakan.

Alat-alat yang digunakan untuk pemetaan ini peta aerial photographs,kompas dan klino,pita dan GPS.

3. Standart Mapping

Implementasi format yang dipakai setiap perusahaan sering kali berlainan, Standart Tipe Laterit PT.Harita Group,PT.WBN dan QNI sbb :

Legenda Mineralisasi

Limonite :
Coklat orange – Coklat kemerahan, < 10% float ultramafik Rocky laterite : Coklat orang – Coklat kemerahan, 10% - 50% float Ultramafik Outcrop/Subcrop Ultramafik : Area Harzburgite/Dunite/Peridotite, > 50% float Ultramafik
Brown Soil :
Non limonitic,coklat terang – hitam,sediment – lapukan sedimen

IV.3. Survey

Letak test pit atau drill hole terdahulu termasuk dalam program survey.Secara teknik untuk detai survey akan diterangkan di lain pembahasan termasuk data-data pendukungnya.

Semua titik-titik perencenaan drill yang baru disurvey oleh surveyor yang professional.

IV.4. Drilling

Titik bor ditandai oleh crew local dengan mempergunakan kompas dan pita ukur. Program drilling PT.KPT mempergunakan Jackro 175,NQ drill rods dan tungsten carbide bits dan triplecup.

Sebelumnya permukaan letak bor diperiksa secara teliti. Standart yang dipakai disini pengeboran berhenti apabila mencapai 30 m.

Core Recovery diperiksa setiap kemajuan”run” dan dicatat didalam Core Recovery Sheet.

Dan Logging dilakukan oleh geologist.

1. Diskripsi Inti Bor (STANDARD QNI)

Yang perlu didiskripsi antara lain :
1. Nomor conto (kolom.1)
Nomor conto mengikuti kedalaman bor (permeter)

2. Kedalaman (kolom 2 dan 3)
Kemajuan kedalaman berdasarkan kemajuan per-meter kecuali kedalaman akhir pada saat bor berhenti, missal : 00,00 – 01,00 m
01,00 – 02,00 m


25,00 – 25,75 (25,75 m adalah kedalaman akhir)

3. Jenis batuan,Lithology (kolom 4)
Berdasarkan logging code yang telah disepakati, disini diberikan conto dari QNI missal : LF – Red-brown limonite; R_SAP – Rocky saprolite ( laterit ultra basa yang mengandung10% - 50% float ultra basa).

4. Warna/colour (kolom5)
Berdasarkan kenampakan fisik, misal : Abu-abu,Hijau,Kuning.

5. Standard Pelapukan / Standard Weathering Scale (kolom 6)
Sejauh mana batuan tersebut mengalami pelapukan.

6. Persentase boulder /batuan yang hadir (kolom 7)
Seberapa banyak fragmen batuan yang hadir disetiap meter kemajuan bor.

7. Ukuran fragmen batuan yang hadir (kolom 8)
Berapa panjang (cm) batuan yang hadir disetiap meter kemajuan bor

8. Keterangan/Comments
Berdasarkan keterangan yang didapat dari laterite/batuan pada setiap 1 m kemajuan bor.



















* Contoh Form drill hole (QNI standard / WBN Standard)

DRILL HOLE LOG SHEET____of____
PROJECT :

Drill-hole No : Date Started :
Location : Date Complete :
Co-ordinate E : Remarks :
Co-ordinate N: Drilling Co.
Collar elevation : Logged by :
Final Depth

Sample No From To Lithology colour wth %Rock Rock Size Comments
xxxx 11.00 12.00 R_SAP DGrey 5F 35 1,2 Mod weath.Frsh Hz Boulders.






















CORE RECOVERY SHEET____of____

PROJECT :

Drill-hole No: Date Started :
Location : Date Comleted :
Logged by : Final Depth
Average Recovery

Core Run Core Length Core Recovered % Recovery
From To
4.0 4.5 0.5 0.4 80
4.5 4.9 0.4 0.37 93
































2. Cara Sampling ( Standart PT.KPT)

1. Inti bor di sampling setiap interval 1m kemajuan bor,kecuali pada batas lithologi.
2. Core box harus dilapisi dengan plastic yang bersih atau dibersihkan setiap pergantian core / inti bor.
3. Conto/inti bor dimasukkan ke dalam kantong conto beserta almunium tag dan label conto (karton manila) yang telah disiapkan sebelumnya.
4. Conto ditimbang dan dicatat beratnya pada almunium tag dan label conto.
5. Plastik conto dirangkap dua.
6. Apabila ada satu conto atau lebih yang akan diambil Hand Specimen-nya maka harus dicatat berat asal dan berat HS-nya. Berat yang dicantumkan pada label adalah berat sisa setelah diambil HS-nya,terutama untuk saprolite.
7. Conto dimasukkan kedalam karung dan pada bagian luar ditulis nomor conto,kedalaman serta jumlah contonya.

IV.5. Preparasi Sample/Conto

Preparasi sample dilapangan dilakukan selama program drilling sebagai pengontrol kelanjutan explorasi drill melalui hasil assay sample.

Sampling dilakukan dilapangan dan dibawa oleh crew laborat untuk diperiksa. Alat yang digunakan antara lain sebuah mobile jaw crusher,pulverizer dan oven pengering/drying oven atau dijemur dibawah terik matahari.

Duplikat sample sebagai cross cek hasil laborat haruslah disimpan secara rahasia.Sample ini harus direcord secara rapi dan teratur. Data duplikat sample tidak boleh tersebar ke laboratorium.


Foto.8. Penjemuran Sample, PT.KPT,Haltim,2006

IV.6. ASSYING

Di sini hanya akan diterangkan secara sekilas urut-urutannya,antara lain :

1. Metoda
Setiap sample dianalisa oleh Independent Konsultan Laboratorium di Jakarta untuk unsur-unsur Ni,Co,Fe,Mg,Si dan Al, dengan intruksi standard sample yang telah ditetapkan oleh perusahan pengguna jasa.
Metode analisa yang dipakai adalah :
• Ni,Co,Fe,Mg dan Al akan diperiksa dengan 2 cairan asam (hydrochloric dan nitric acid), dan hasilnya dibaca melalui Atomic Absorption Spectroscopy (AAS).
• Analisis Si untuk program drilling feasibility dan diperiksa melalui suatu proses gravimetric

2. Anlisis Data Quality Assay
Kualitas data bisa dikontrol melalui :
• Duplikat sample
• Standard sample
• Cek sample

IV.7. GEOTEK

Aktifitas geotek dilapangan meliputi :
• Investigasi geotek dilapangan – diskripsi soil dan batuan selama logging dari hasil drilling geotek.
• Drilling Geotek – berdasarkan pada drilling,alat-alat sampling,standard penetration tests (SPT),piezometers,dan lain-lain.
• Testing Geotek – Pemeriksaan density tanah dilapangan dengan metode sand-cone

IV.8. DATA

1. Data Entry.
Maintenance database dan data entry dikerjakan di kantor Jakarta dengan menggunakan Microsoft (MS) Access database, dibawah supervisi profesional geologist.

Data yang dikirimkan kejakarta dari lapangan berupa :
• Drill hole logging sheets
• Core recovery sheets
• Kopi digital progresif data density dan pengukuran moisture content.

2. Verifikasi Data
Internal audit validasi data yang dikerjakan oleh staff ahli di kantor Jakarta meliputi :

Testing data fisik
• Verifikasi data dengan software MicroLynk, jika data dilapangan belum diolah.
• Pengecekan kembali data logging yang asli dan siapa geolog yang bertanggung jawab.
• Kira-kira 20% original logs dan assay sheet musti diperiksa kembali untuk menghindari kesalahan pengetikan-typographical.
• Mereview digital terrain model
• Memeriksa kembali data survey yang lalu dan program drilling yang sedang berjalan.
• Dll.

Testing analitikal data
• Verifikasi nomor sample
• Verifikasi entry data base
• Quality control

3. Data Security

Untuk menjaga kerahasian sample dan integritas data base dari interfensi dan kebocoran data adalah sangat penting. Maka yang harus dilakukan adalah :
• Mengawasi secara langsung keamanan sample/core dilapangan.
• Core sisa dan sample yang direjek disimpan digudang yang terkunci.
• Menjaga keamanan transportasi sample dan core.
• Keamanan laaboratorium.
• Semua data diberi akses rahasia.
• Keamanan computer.
• Final report harus dijaga kerahasiaannya
• Semua file musti di backedup di dalam CD dan disimpan secara rahasia dilapangan.
• Jika menggunakan fasilitas “network” dapat dibackedup secara teratur di designated network drive (G).

IV.9. Estimasi Cadangan

Semua staff eksplorasi harus familiar dengan prinsip-prinsip dasar dan funsi sistimatik cadangan dan estimasi reserve.

Permulaan estimasi resource dapat dikerjakan di “in-house” dengan MicroLynk software dan polygonal standart serta metode block modeling.

Digitising interpetasi zona-zona litologi harus dikerjakan oleh geologist dan juga diperiksa oleh senior geologist.

Validasi digital kopi data base haruslah diserahkan ke konsumen (biasanya QNI atau perusahaan pembeli lainnya) untuk kalkulasi cadangan melalui blok model . Biasanya mereka juga mengaudit seluruh prosedur eksplorasi yang telah kita lakukan.

IV.10. Pembuatan Laporan.

Standart laporan ini biasanya memuat hal-hal sebagai berikut : (QNI dan WBN)
1. Pendahuluan
1.1 Diskripsi Projek
1.2 Eksplorasi sebelumnya

2. Status
2.1 Sejarah
2.2 Kedudukan/Status daearah

3. Geologi dan Mineralisasi
3.1 Geologi Regional
3.2 Prospek Geologi
3.3 Struktur

4. Eksplorasi dan Evaluasi
4.1 Drilling
4.2 Pengukuran Density
4.3 Analisa Dampak Lingkungan
4.4 Mini Pit Ekskavasi/Mining Block Test

5. Prosedur Estimasi
5.1 Data Base
5.2 Survey Topografi
5.3 Geologi
5.4 Profile Vertikal Secara Kimia
5.5 Penyebaran Batuan
5.6 Variograpi

6. Modelling
6.1 Topograpi Permukaaan
6.2 Geologi Model
6.3 Blok Model
6.4 Metode Estimasi Grade

7. Kriteria Penilaian Cadangan Mineral
7.1 Cara Sampling dan Data
7.2 Estimasi dan Laporan Cadangan Mineral

8. Statemen Cadangan

9. Penambahan Cadangan Yang Potensial

10. Referensi.


IV.11. Daftar Gambar :

Gbr 1: Peta Lokasi
Gbr 2: Status Peta Lokasi
Gbr 3: Peta Geologi Regional
Gbr 4: Peta Geologi Daerah Telitian
Gbr 5: Skema Profil Litologi Daerah Telitian
Gbr 6: Peta Lokasi Titik Bor
Gbr 7: Peta Topografi

V. DAFTAR PUSTAKA

Alta Metallurgical Services,PR:Jo-Al Enterprices P/L CAN 006 418 051.1997
Nickel/Cobalt Laterite Project Development Seminar.

Caga 4 Feasibility Study.2006,Exploration Protocol

Human Resources Development & Training,PT.INCO,2000.Pandangan Umum Opersi.

PT.WedaBay Nickel.1998, Internal Report – SOP

PT.ANTAM,Standart Operational Prosedur – SOP

PT.KPT.2006,Informasi Internal

PT.GDM.2006,Prosedur Eksplorasi



















Monday, 18 April 2011

JOGJA GEOLOGI SURVEY (JGS): EKSPLORASI TAMBANG DENGAN PROGRAM MINCOM

JOGJA GEOLOGI SURVEY (JGS): EKSPLORASI TAMBANG DENGAN PROGRAM MINCOM

Saturday, 8 January 2011

EKSPLORASI TAMBANG DENGAN PROGRAM MINCOM

EKSPLORASI BATUBARA
(Dengan Metode Resistivity)

Tuesday, 28 December 2010

MODUL ROCKWORK

MODUL ROCKWORK

Saturday, 11 September 2010

EKSPLORASI ENDAPAN BAUKSIT


EKSPLORASI ENDAPAN BAUKSIT
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bahan galian merupakan salah satu sumber daya alam non hayati yang keterjadiannya disebabkan oleh proses – proses geologi. Berdasarkan keterjadian dan sifatnya bahan galian dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok ; mineral logam, mineral industri serta batubara dan gambut. Karakteristik ketiga bahan galian tersebut berbeda, sehingga metode eksplorasi yang dilakukan juga berbeda. Oleh karena itu diperlukan berbagai macam metode untuk mengetahui keterdapatan, sebaran, kuantitas dan kualitasnya.

Kegiatan eksplorasi bahan galian umumnya melalui beberapa tahap eksplorasi, dimulai dari survey tinjau, prospeksi, eksplorasi umum sampai eksplorasi rinci. Setiap tahap eksplorasi yang dilakukan tidak hanya melibatkan ahli geologi tetapi juga ahli – ahli geofisika, geokimia, geodesi, teknik pemboran, geostatistik dan sebagainya.

Tujuan Penyelidikan
Kegiatan penyelidikan ini dilaksanakan adalah untuk menginventarisasi data – data yang berkaitan dengan sumber daya alam khususnya sumber daya mineral logam yang secara langsung sebagai bahan baku untuk industri tertentu seperti ; industri besi dan baja, kendaraan bermotor, dan lain-lain. Adapun tujuan penyelidikannya yaitu ;
a. Mengetahui dan mengamati batas sebaran endapan khromit
b. Mengetahui dan mengamati tipe endapan khromit
c. Menghitung dan menganalisis luasan sebaran endapan
d. Menghitung potensi sumber daya dan cadangan dari endapan khromit

Keadaan Lingkungan
Bijih bauksit terjadi di daerah tropis dan subtropis yang memungkinkan pelapukan yang sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan yang mempunyai kadar alumunium nisbi tinggi, kadar Fe rendah dan tidak atau sedikit mengandung kuarsa (SiO¬2) bebas atau tidak mengandung sama sekali. Bentuknya menyerupai cellular atau tanah liat dan kadang-kadang berstruktur pisolitic. Secara makroskopis bauksit berbentuk amorf. Kekerasan bauksit berkisar antara 1 – 3 skala Mohs dan berat jenis berkisar antara 2,5 – 2,6.
Kondisi – kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan bauksit secara optimum adalah ;
1. Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang kaya alumunium
2. Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
3. Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan mudah
4. Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
5. Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan
6. Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan terjadinya pergerakan air dengan tingkat erosi minimum
7. Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan

Pelaksanaan dan Peralatan
• Peta dasar
• Foto Udara
• Alat surveying, ukur atau GPS
• Alat kerja : 1. Palu 5. Alat geofisika
2. Kompas 6. Alat sampling
3. Meteran 7. Altimeter
4. Kantong sampel 8. Alat bor dll
• Alat tulis
• Alat komunikasi
• Keperluan sehari-hari
• Obat-obatan atau P3K

GEOLOGI UMUM
A. Proses Pembentukan Bahan Galian
Bahan galian adalah semua bahan atau subtansi yang terjadi dengan sendirinya di alam dan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk berbagai keperluan industrinya. Bahan tersebut dapat berupa logam maupun non logam, dan dapat berupa bahan tunggal ataupun berupa campuran lebih dari satu bahan. Proses terbentuknya endapan bahan galian adalah komplek dan sering lebih dari satu proses yang bekerja bersama-sama. meskipun dari satu jenis bahan, misalnya logam, kalau terbentuk oleh proses yang berbeda maka akan menghasilkan tipe endapan yang berbeda pula.

Contohnya adalah endapan bijih besi, endapan ini dapat dihasilkan oleh proses diferensiasi magmatik oleh larutan hidrotermal, oleh proses sedimentasi ataupun oleh proses pelapukan. Tiap-tiap proses akan menghasilkan endapan bijih besi yang berbeda-beda baik dalam mutu, besarnya cadangan, maupun jenis mineral-mineral ikutannya.
Tabel. 1. Proses dan pembentukan jenis deposit
Proses Deposit yang dihasilkan
1. Konsentrasi magmatik Deposit magmatik
2. Sublimasi Sublimat
3. Kontak metasomatisme Deposit kontak metasomatik
4. Konsentrasi hidrotermal Pengisian celah-celah terbuka
Pertukaran ion pada batuan
5. Sedimentasi Lapisan-lapisan sedimenter Evaporit.
6. Pelapukan Konsentrasi residual Placer.
7. Metamorfisme Deposit metamorfik
8. Hidrologi Air tanah, garam tanah, endapan caliche.
Konsentrasi magmatik
Beberapa dari mineral yang terdapat dalam batuan beku banyak yang mempunyai nilai ekonomis, tetapi pada umumnya konsentrasi terlalu kecil untuk dapat diproduksi secara komersial, oleh karena itu diperlukan suatu proses konsentrasi untuk dapat mengumpulkan bahan-bahan tersebut dalam suatu deposit yang ekonomis. Konsentrasi tersebut terjadi pada saat batuan beku masih berupa magma, karenanya disebut konsentrasi oleh proses magmatik. Perkecualian pada intan, dimana tidak diperlukan konsentrasi, tetapi suatu kristal tunggal saja sudah cukup berharga.

Deposit bahan galian sebagai hasil endapan proses magmatik ini memiliki ciri-ciri adanya hubungan yang dekat dengan batuan beku intrusif dalam atau intrusif menengah. Konsentrasi magmatik dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Magmatik awal :
• Kristalisasi tanpa konsentrasi : intan
• Kristalisasi dan pemisahan : khron, platina
b. Magmatik akhir :
• Akumulasi dan atau injeksi larutan residual : besi titan, platina, titan, khron.
• Akumulasi dan pemisahan larutan : beberapa tipe deposit nikel dan tembaga.
• Pegmatit.

Hasil atau produk dari proses magmatik dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu logam tunggal (native metal), oksida, silfisa dan batu mulia (gemstone).
Contoh logam tunggal : Platina, Emas, Perak, Besi-Nikel.
Contoh oksida : Besi (magnetit, hematit), Besi-titan (magnetit bertitan), Titan (ilmenit), Khrom (kromit), Tungsten (wolframit).
Contoh sulfide : Nikel-tembaga (kalkopirit), Nikel (pentlandit, molibdenit).
Contoh batu mulia : Intan, Garnet (almandit), Peridotit.

Deposit konsetrasi mekanis atau placer
Sisa pelapukan yang tidak dapat larut akan menghasilkan suatu selubung dari bahan-bahan lepas, diantaranya berat dan beberapa lagi ringan; ada yang getas (britlle) dan ada yang tahan (durable). Bahan-bahan tersebut oleh suatu media tertentuk seperti air yang mengalir (sungai), angin arus pantai (beach), ataupun ari permukaan (running water) dapat mengalami pemisahan bagian yang berat terhadap bagian yang ringan secara gravitasi dan membentuk endapan placer.

Konsentrasi hanya dapat terjadi kalau mineralberharga yang bersangkutan memiliki tiga sifat sebagai berikut :
- Berat jenisnya tinggi
- Tahan terhadap pelapukan kimiawi
- Tahan terhadap benturan-benturan fisik (durable)

Mineral placer yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah emas, platina, tinstone, magnetit, khromit, ilmenit, rutil, tembaga, batu mulia, zircon, monazit, fosfat, tantalit, columbit. Diantara bahan-bahan tersebut di atas yang paling berharga sebagai deposit placer adalah emas, platina, tinstone, ilmenit (bijih titanium), intan dan ruby.



Deposit sebagai akibat oksidasi dan pengkayaan sekunder

Air dan oksigen adalah tenaga pelapukan kimiawi yang sangat kuat, kalau mereka bersentuhan dengan suatu deposit bijih, maka hasilnya adalah reaksi-reaksi kimia yang kadang-kadang dapat drastis dan merubah deposit yang sudah ada tersebut. Air permukaan yang mengandung oksigen akan bersifat sebagai bahan pelarut yang mampu melarutkan mineral-mineral tertentu. Suatu deposit bijih dapat teroksidasi dan dapat kehilangan banyak kandungan mineral yang berharga karena tercuci (leached), kemudian terbawa ke bawah oleh air permukaan yang sedang turun ke bawah (meresap ke bawah).

Pada bagian bawah, akhirnya larutan tersebut mengendapkan kandungan-kandungan mineral logamnya menjadi endapan bijih teroksidasi (oxidized ores), ini terjadi di atas muka air tanah. Pada saat larutan memasuki air tanah di bawah muka air tanah, mereka memasuki zona dimana tidak ada oksigen dan kandungan logamnya lalu diendapkan dalam bentuk logam-logam sulfida. Proses tersebut dinamakan pengkayaan sulfida sekunder. Tentu saja gambaran tersebut tidak terjadi pada semua deposit bijih yang terkena air, karena tidak semua deposit bijih mengandung logam yang dapat teroksidasi, atau iklim yang tidak memungkinkan terjadinya pelarutan yang kuat. Jadi haruslah ada kondisi khusus yang mengangkut waktu, iklim, topografi dan jenis bijih tertentu untuk dapat terjadinya zona teroksidasi dan zona diperkaya.

GEOLOGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Genesa Endapan Bauksit
Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan tersebut antara lain nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, gabro, basalt, hornfels, schist, slate, kaolinitic, shale, limestone dan phonolite. Apabila batuan-batuan tersebut mengalami pelapukan, mineral yang mudah larut akan terlarutkan, seperti mineral – mineral alkali, sedangkan mineral – mineral yang tahan akan pelapukan akan terakumulasikan.

Di daerah tropis, pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk dari mineral silikat dan lempung akan terpecah-pecah dan silikanya terpisahkan sedangkan oksida alumunium dan oksida besi terkonsentrasi sebagai residu. Proses ini berlangsung terus dalam waktu yang cukup dan produk pelapukan terhindar dari erosi, akan menghasilkan endapan lateritik.

Kandungan alumunium yang tinggi di batuan asal bukan merupakan syarat utama dalam pembentukan bauksit, tetapi yang lebih penting adalah intensitas dan lamanya proses laterisasi.

Kondisi – kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan bauksit secara optimum adalah ;
1. Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang kaya alumunium
2. Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
3. Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan mudah
4. Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
5. Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan
6. Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan terjadinya pergerakan air dengan tingkat erosi minimum
7. Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan

GERAKAN TANAH


Gerakan Tanah (Longsoran)
Gerakan tanah adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis, mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi, dan selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali. Jadi longsor merupakan pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng mengikuti gaya gravitasi akibat terganggunya kestabilan lereng. Apabila massa yang bergerak pada lereng ini didominasi oleh tanah dan gerakannya melalui suatu bidang pada lereng, baik berupa bidang miring maupun lengkung, maka proses pergerakan tersebut disebut sebagai longsoran tanah. Menurut Suripin (2002) tanah longsor adalah merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Ditinjau dari segi gerakannya, maka selain erosi longsor masih ada beberapa erosi akibat gerakan massa tanah, yaitu rayapan (creep), runtuhan batuan (rock fall), dan aliran lumpur (mud flow). Karena massa yang bergerak dalam longsor merupakan massa yang besar maka sering kejadian longsor akan membawa korban, berupa kerusakan lingkungan, yaitu lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur, serta hilangnya nyawa manusia.
Proses terjadinya gerakan tanah melibatkan interaksi yang kompleks antara aspek geologi, geomorfologi, hidrologi, curah hujan, dan tata guna lahan.
Secara umum faktor pengontrol terjadinya longsor pada suatu lereng dikelompokan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari kondisi geologi batuan dan tanah penyusun lereng, kemiringan lereng (geomorfologi lereng), hidrologi dan struktur geologi. Sedangkan faktor eksternal yang disebut juga sebagai faktor pemicu yaitu curah hujan, vegetasi penutup, penggunaan lahan pada lereng, dan getaran gempa.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana tanah longsor dikategorikan dalam kawasan fungsi lindung. Sedangkan batasan kawasan lindung diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 837/KPTS/UM/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.
Daerah perbukitan atau pegunungan yang membentuk lahan miring merupakan daerah rawan terjadi gerakan tanah. Kelerengan dengan kemiringan lebih dari 20o (atau sekitar 40%) memiliki potensi untuk bergerak atau longsor, namun tidak selalu lereng atau lahan yang miring punya potensi untuk longsor tergantung dari kondisi geologi yang bekerja pada lereng tersebut.

Potensi terjadinya gerakan tanah pada lereng tergantung pada kondisi tanah dan batuan penyusunnya, dimana salah satu proses geologi yang menjadi penyebab utama terjadinya gerakan tanah adalah pelapukan batuan (Selby, 1993).
Proses pelapukan batuan yang sangat intensif banyak dijumpai di negara-negara yang memiliki iklim tropis seperti Indonesia. Tingginya curah hujan dan penyinaran matahari menjadikan tinggi pula proses pelapukan batuan. Batuan yang banyak mengalami pelapukan akan menyebabkan berkurangnya kekuatan batuan yang pada akhirnya membentuk lapisan batuan lemah dan tanah residu yang tebal. Apabila hal ini terjadi pada daerah lereng, maka lereng akan menjadi kritis. Faktor geologi lainnya yang menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah adalah aktivitas volkanik dan tektonik, faktor geologi ini dapat dianalisis melalui variabel tekstur tanah dan jenis batuan. Tekstur tanah dan jenis batuan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gerakan tanah yang diukur berdasarkan sifat tanah dan kondisi fisik batuan.
Disamping itu curah hujan yang meningkatkan presepitasi dan kejenuhan tanah serta naiknya muka air tanah, maka jika hal ini terjadi pada lereng dengan material penyusun (tanah dan atau batuan) yang lemah maka akan menyebabkan berkurangnya kuat geser tanah/batuan dan menambah berat massa tanah. Pada dasarnya ada dua tipe hujan pemicu terjadinya longsor, yaitu hujan deras yang mencapai 70 mm hingga 100 mm perhari dan hujan kurang deras namun berlangsung menerus selama beberapa jam hingga beberapa hari yang kemudian disusul dengan hujan deras sesaat. Hujan juga dapat menyebabkan terjadinya aliran permukaan yang dapat menyebabkan terjadinya erosi pada kaki lereng dan berpotensi menambah besaran sudut kelerengan yang akan berpotensi menyebabkan longsor.
Dalam analisis spasial, data intensitas curah hujan diwujudkan dalam bentuk peta isohiet yaitu peta yang menunjukkan deliniasi daerah dengan curah hujan yang sama. Berdasarkan peta isohiet tersebut, dapat ditentukan penilaian intensitas curah hujannya.
Tata guna lahan merupakan bagian dari aktivitas manusia, secara umum yang dapat menyebabkan longsor adalah yang berhubungan dengan pembangunan infrastruktur seperti pemotongan lereng yang merubah kelerengan, hal ini juga akan merubah aliran air permukaan dan muka air tanah. Penggundulan hutan maupun penggunaan lahan yang tidak memperhatikan ekosistem dapat pula memicu terjadinya gerakan tanah dan erosi. Secara kuantitatif, faktor pemanfaatan lahan dapat dianalisis melalui variabel jenis kegiatan dari pemanfaatan lahan yang terjadi.

MITRA PROJECT KAMI

4 Mitra Kampus CV. JGS
Kampus UGM, Kampus ITNY Yogyakarta, Kampus UPN Veteran Yogyakarta, Kampus Akprin Yogyakarta
54 Project CV. JGS
Project Perizinan Tambang PT. Tjakrindo, PT. Sinar Mineral Gemilang Pasuruan, Project Gold PT. JCM Kaltara, PT. GIR Project Nikel
54 Customers CV. JGS
PT. JCM, PT. SMG, PT. TJAKRINDO, PT. GIR, PT.CHARIL SAKTI PERDANA, PT. KALAPA SATANGKAL, PT. KUIM

Team CV.JGS

Direktur Utama
CEO
Team CV.JGS
Team Eksplorasi
Team CV.JGS
Team Geolistrik
Team CV.JGS
Team Drilling

Contact

Kami Siap Melayani

CV. Jogja Geologi Survey siap membantu Prizinan IUP, Survey Geologi Maupun Kegiatan Lainnya, Kami akan memberikan segala yang terbaik mulai dari Perizinan Awal WIUP, hingga Kegiatan Eksplorasi dan Produksi. Dengan hasil terbaik dan harga terbaik..

Address:

Yogyakarta, Jalan Magelang,

07 Am:

Monday - Friday from 9am to 5pm

085323353108

Powered by Blogger.